Minggu, 13 April 2014

Mana lebih kuat ? Jokowi Effect 2014 atau SBY Effect 2009 ? ( Tugas Karangan Populer )

Tak bisa dipungkiri, demam Jokowi semakin menguatkan posisi PDIP untuk mendongkrak suara pada Pileg 2014. Tapi, untuk capres belum tentu. Jokowi dinilai tak sebanding dengan Susilo Bambang Yudhoyono 2009 lalu. "Jokowi 2014 tak sehebat SBY 2009," kata Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, di kantornya, Rabu (9/4/2014).Menurut survei yang dilakukan LSI, tingkat elektabilitas Jokowi pada April 2014 hanya 40 %. Jika dibandingkan dengan SBY pada Pemilu 2009, elektabilitasnya sangat jauh. "SBY 2009 elektabilitasnya sangat tinggi yakni 60 %. Dilihat dari angka ini saja sudah beda," ujar Denny. Meski memiliki pengaruh kepada suara PDIP, menurut Denny, peran Jokowi tidak terlalu mendongkrak suara partai secara signifikan. Itu juga berbeda dengan SBY pada 2009.
Jika melihat hasil pemilu legislative pada tahun 2009 Partai Demokrat memperoleh hasil 20,85% sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada pemilu 2014 versi quick count hanya dapat memperoleh 18,58% (Centre For Strategic And International Studies) sementara jika melihat hasil pileg 2009 PDIP mampu mengumpulkan suara sebesar 14,03% . Hal ini seolah dapat membuktikan pendapat beberapa lembaga bahwa elektabilitas Jokowi hanya dapat menaikan perolehan suara sebesar 3% hingga 4%.
Apa yang menyebabkan pencapresan Joko Widodo tidak berdampak besar pada perolehan suara PDIP Direktur Eksekutif PolcoMM Heri Budianto menilai bahwa adanya perpecahan di internal partai. Menurutnya, di internal PDIP masih banyak yang menginginkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri maju kembali menjadi capres. "Ketika Jokowi diputuskan untuk menjadi capres oleh PDI-P, banyak loyalis Mega yang mempunyai basis cukup besar di PDI-P kecewa. Mereka selama ini menilai, PDI-P ya Bung Karno. Jadi harus penerus darah Bung Karno yang maju lagi menjadi presiden," kata Heri, saat ditemui usai diskusi 'Membaca Arah Koalisi Partai Politik', di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Jumat (11/10/2014) siang. Apalagi, menurutnya, PDI-P selama ini sangat identik dengan sosok Megawati, bukan Jokowi. Sosok yang selalu ditonjolkan selama 5 tahun belakangan ini, menurutnya, adalah Megawati bersama putrinya yang juga Ketua Fraksi PDI-P Puan Maharani. "Di indonesia ini politik ketokohan memang masih mengandalkan Ketua Umum. Gerindra dengan Prabowo, SBY dengan Demokrat, jadi PDI-P dengan Megawati. Sosok Jokowi tidak dominan," tambahnya. Jika melihat hasil survey Focus Survey Indonesia pada bulan Januari 2014 tentang Pengetahuan Masyarakat Terhadap Tokoh pada Parpol yang menjadi perserta Pemilu 2014 tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Jokowi hanya 34,2% sementara tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Megawati Soekarnoputri sebesar 99,3%.          

Sumber :
Cuplik. “Ini Dia Hasil Akhir Quick Count Pileg 2014” http://www.cuplik.com/politik/2014/04/10/9556/Ini-Dia-Hasil-Akhir-Quick-Count-Pileg-2014.html (diakses tanggal 13 April 2014).
Kompas. “Pengamat: Efek Jokowi Terhambat Perpecahan Internal PDI – P” http://nasional.kompas.com/read/2014/04/11/2323370/Pengamat.Efek.Jokowi.Terhambat.Perpecahan.di.Internal.PDI-P (diakses tanggal 13 April 2014)
Liputan 6. “LSI: Efek Jokowi Tak Besar, Tak Sehebat SBY Pemilu 2009.” http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2034719/lsi-efek-jokowi-tak-besar-tak-sehebat-sby-pemilu-2009  ( diakses tanggal 13 April 2014 ).
Wikipedia. “Pemilihan Umum Legislatif Indonesia 2009” http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_legislatif_Indonesia_2009 (diakses tanggal 13 April 2014).








Tidak ada komentar:

Posting Komentar